Laporan Keuangan Yang Cocok Untuk Usaha Kecil

Halo bos bis semuanya! Assalamualaikum! Membuat laporan keuangan sangat penting untuk dilakukan. Tidak hanya bagi perusahaan besar saja, usaha kecil, UMKM, bahkan rumah tangga pun memerlukan laporan keuangan ini. Dengan laporan keuangan, arus uang akan lebih mudah diketahui dan penentuan kebijakan akan uang akan lebih mudah diputuskan. Namun sayangnya, tidak semua usaha kecil membuat laporan keuangan. Minimnya pengetahuan akan pencatatan keuangan, dan stigma bahwa laporan keuangan itu rumit, memundurkan niat para pengusaha kecil untuk membuat laporan keuangan.

Manfaat dan fungsi laporan keuangan

Meski rumit, namun laporan keuangan memiliki manfaat dan fungsi yang bisa mengembangkan usaha kecil bos bis. Berikut beberapa manfaat dan fungsi laporan keuangan:

Manfaat laporan keuangan

  1. Mengetahui kondisi keuangan usaha
  2. Memberikan informasi mengenai keuangan usaha
  3. Dapat dijadikan sebagai salah satu syarat dalam mengajukan pinjaman
  4. Laporan kepada pemerintah untuk pajak
  5. Sebagai landasan dalam mengambil kebijakan

Fungsi laporan keuangan

  1. Mencatat keuangan berdasarkan urutan waktu transaksi
  2. Mencatat keseluruhan transaksi
  3. Menunjukkan pendapatan, biaya modal barang, pengeluaran operasional, labar kotor dan laba bersih

Jenis laporan keuangan menurut SAK ETAP

IAI menetapkan dalam SAK ETAP tahun 2009 bahwa laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan lengkap terdiri dari:

  1. Neraca
  2. Laporan laba rugi
  3. Laporan ekuitas
  4. Laporan arus kas
  5. Catatan atas laporan keuangan

Pencatatan laporan keuangan untuk usaha kecil

Setiap pencatatan laporan keuangan akan lebih baik jika bos bis memahami ilmu akuntansi. Tapi, untuk laporan keuangan sederhana, bos bis tidak perlu pusing dengan banyaknya istilah akuntansi. Cukup sediakan saja beberapa buku untuk pencatatan transaksi keluar masuk. Diantaranya adalah:

  1. Buku Kas
  2. Buku Persediaan Barang
  3. Buku Pembelian Barang
  4. Buku Penjualan
  5. Buku Biaya
  6. Buku Piutang
  7. Buku Utang

Cara mencatatnya mudah saja. Contohnya untuk transaksi penjualan. Jika dilakukan tunai, bos bis perlu mencatat di buku penjualan, buku kas sebagai pemasukan, dan buku persediaan barang karena ada barang yang keluar. Jika transaksi dilakukan secara kredit, maka yang diperlukan adalah buku penjualan, buku piutang dan persediaan barang.

Contoh kasus: Pelanggan A membeli 1 karung beras 5 kg dengan harga 65 ribu dan 1 dus air mineral gelas seharga 20 ribu secara tunai. Maka pencatatannya :

Buku kas: Penjualan di kolom debet 85 ribu.
Buku penjualan: Penjualan tunai 85 ribu.
Buku persediaan: Beras @5kg di kredit 1 karung dan Air mineral gelas di kredit 1 dus

Bos bis tidak perlu rumit dengan istilah debet dan kredit. Yang perlu bos bis pahami adalah pisahkan kolom antara penambahan dan pengurangan. Sering juga terjadi kebingungan antara utang dan piutang. Utang artinya kita yang berhutang kepada orang lain. Sedangkan piutang artinya orang lain yang berhutang kepada kita.

Terima kasih sudah membaca hingga akhir dan semoga bermanfaat. Jika bos bis memiliki pertanyaan, silahkan hubungi oting dengan klik ikon whatsapp di bawah ini. Cari artikel lainnya dengan klik dan tuliskan pertanyaan di kolom pencarian di bagian atas halaman ini.

artikel ini disiapkan oleh:

Irma Nurhayati

Aku Irma. Pencinta buku yang suka berbagi pengalaman membacanya di blog dan sosial media.

pertanyaan lebih lanjut hubungi via WhatsApp
Categorised in: